Imago Dei sebagai Imago Trinitatis: Paradigma Relasional bagi Etika Digital Kontemporer
Kata Kunci:
Antropologis Teologis, Teologi Trinitatis, Etika Digital, Imago Trinitatis, Imago DeiAbstrak
Artikel ini merekonstruksi konsep Imago Dei dalam kerangka trinitaris sebagai dasar normatif bagi etika digital kontemporer. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan ekonomi berbasis data telah mengubah cara manusia memahami identitas dan relasi sosial. Dalam budaya algoritmik yang berkembang dalam logika kapitalisme pengawasan sebagaimana dianalisis oleh Shoshana Zuboff, pengalaman manusia semakin direduksi menjadi data yang dapat diprediksi dan dimonetisasi. Kondisi ini menimbulkan krisis antropologis karena martabat manusia cenderung dipahami melalui performa, visibilitas, dan kegunaan dalam sistem digital. Melalui pendekatan teologi sistematis yang berdialog dengan teori budaya digital, artikel ini menelusuri perkembangan pemahaman Imago Dei dari model substansial menuju model relasional yang berakar dalam kehidupan Allah Tritunggal. Dengan merujuk pada pemikiran Karl Barth, Jürgen Moltmann, dan John Zizioulas, artikel ini mengembangkan konsep Imago Trinitatis sebagai paradigma antropologis yang menempatkan relasi sebagai dimensi ontologis keberadaan manusia. Artikel ini berargumen bahwa paradigma trinitaris menyediakan kerangka etis yang mampu mengkritik reduksi algoritmik atas manusia sekaligus menegaskan kembali martabat relasional manusia serta kemungkinan pembentukan relasi yang dialogis dan memanusiakan dalam ruang digital kontemporer.

